Wakaf Produktif Pondok Pesantren Nurmadu Kulon Progo Berbuah Melon Premium Hidroponik

Panen raya melon premium hasil budidaya hidroponik di Pondok Pesantren Nurul Ummah 2 Toyan, Nestiharjo, Wates, Kulon Progo, Selasa (15/9/2026).
KULON PROGO, Pansela.co - Pemanfaatan tanah wakaf untuk kegiatan ekonomi produktif mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pondok Pesantren Nurul Ummah 2 (Nurmadu) Toyan, Ngestiharjo, Wates, menggelar panen raya melon premium hasil budidaya hidroponik dari program wakaf produktif pada Selasa (15/9/2026).
Program tersebut memanfaatkan lahan wakaf seluas 3.500 meter persegi yang dikelola Yayasan Pendidikan Bina Putra sebagai nadzir. Dari lahan tersebut, pengelola membangun greenhouse terpadu dengan luas sekitar 1.500 meter persegi.
Pengembangan greenhouse berlangsung melalui kolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitulmaal Muamalat Kesejahteraan Umat (MKU) di bawah naungan Perhimpunan BMT Indonesia (PBMTI).
BACA JUGA: Benteng Pendem Cilacap, Jejak Sejarah Kolonial yang Kini Jadi Destinasi Wisata
Pengelola menggunakan sistem hidroponik untuk membudidayakan tiga varietas melon premium, yakni Lavender, Inthanon, dan Sweet Net. Ketiga varietas tersebut memiliki karakter buah dengan tekstur renyah dan rasa manis.
Hasil panen kemudian masuk ke pasar komersial dengan harga sekitar Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Pengembangan komoditas hortikultura tersebut sekaligus menunjukkan pemanfaatan teknologi pertanian dalam mengoptimalkan lahan wakaf di lingkungan pesantren.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., mengatakan pemanfaatan tanah wakaf secara produktif dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi nadzir dan masyarakat.
"Pemanfaatan tanah wakaf agar menjadi produktif bisa bermanfaat untuk nadzir, masyarakat, dan kita semua. Kita sengkuyung bersama-sama. Lahan kami cukup luas dan bisa dimanfaatkan untuk wakaf produktif, bahkan untuk wakaf-wakaf yang lain, tidak hanya untuk pendidikan tetapi juga untuk pengembangan ekonomi umat," ujar Ahmad.
BACA JUGA: Tiga Prodi Universitas Putra Bangsa Kebumen Raih Akreditasi Unggul
Menurut dia, pengelolaan wakaf tidak harus berhenti pada pemanfaatan untuk fasilitas pendidikan. Aset wakaf juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan ekonomi yang mendukung kemandirian masyarakat dan lembaga keagamaan.
Program tersebut mendapat dukungan PBMTI yang berencana memanfaatkan jaringan BMT untuk memperluas model wakaf produktif serupa. Keberhasilan greenhouse di Kulon Progo menjadi salah satu proyek percontohan yang dapat dikembangkan melalui jaringan BMT di berbagai daerah.
Ketua Umum PBMT Indonesia, Dra. Hj. Mursida Rambe, mengatakan kolaborasi antarlembaga menjadi faktor penting untuk memperluas manfaat program tersebut.
"Bagaimana pentingnya kita berkolaborasi bersama-sama, berjamaah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan kesejahteraan. Kalau hari ini kita baru punya satu atau dua greenhouse, jika nanti ini berhasil dengan baik, tentu kita akan mengerahkan BMT yang jumlahnya 316 untuk bergerak," tutur Mursida.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga memberikan apresiasi terhadap pengembangan pertanian berbasis wakaf tersebut. Pemkab menilai program itu dapat mempertemukan pemanfaatan teknologi pertanian dengan potensi ekonomi berbasis masyarakat dan lembaga keagamaan.
Bupati Kulon Progo, R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., berharap model pengelolaan tersebut dapat diterapkan di lokasi lain, terutama pada tanah wakaf yang belum dimanfaatkan secara optimal.
"Pemkab sangat menyambut baik program ini karena merupakan satu perbaikan ekonomi dari pilar-pilar pergerakan keumatan. Semoga wakaf produktif ini bisa berkembang dan lahan-lahan yang belum terkelola baik bisa dimanfaatkan," pungkas Agung.
Program wakaf produktif di Ponpes Nurmadu Toyan menjadi contoh pemanfaatan aset wakaf untuk kegiatan agribisnis. Ke depan, keberlanjutan produksi, pemasaran, serta perluasan jaringan menjadi faktor penting untuk menjaga manfaat ekonomi program bagi pesantren dan masyarakat sekitar.***