8.000 Pelari Ramaikan Malioboro Run 2026, Rute Baru Jelajahi Ikon Sejarah Yogyakarta

Para peserta Malioboro Run 2026 siap dilepas di garis start, Minggu (4/10/2026). Sumber: jogjakota.go.id
YOGYAKARTA, Pansela.co – Lebih dari 8.000 pelari dari berbagai daerah di Indonesia meramaikan Malioboro Run 2026 di Kota Yogyakarta, Minggu (4/10/2026). Mengusung tema Culture on Track, ajang lari tahunan yang diselenggarakan Bank BPD DIY ini menawarkan pengalaman olahraga sekaligus mengenalkan kekayaan sejarah, budaya, dan potensi pariwisata Yogyakarta melalui rute yang melintasi sejumlah kawasan ikonik.
Peserta mengikuti tiga kategori lomba, yakni Half Marathon 21 kilometer, 10 kilometer, dan 5 kilometer. Sekitar 70 persen peserta tercatat berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sehingga penyelenggaraan kegiatan ini juga membuka peluang bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Malioboro Run 2026 memasuki tahun penyelenggaraan kelima dengan menghadirkan rute baru yang telah tersertifikasi Association of International Marathons and Distance Races (AIMS). Penyelenggara merancang lintasan agar peserta dapat menikmati suasana Kota Yogyakarta sekaligus menyaksikan langsung kawasan yang memiliki nilai historis dan budaya.
BACA JUGA: JABFest 2026 di The Ratan Yogyakarta: Satukan Seni, Literasi, dan Kritik Sosial
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi penyelenggaraan Malioboro Run karena menggabungkan kegiatan olahraga dengan promosi potensi daerah. Menurutnya, kehadiran ribuan pelari dari berbagai wilayah menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Yogyakarta sebagai kota wisata, sejarah, dan budaya.
"Ini bukan hanya tentang olahraga dan lari. Para peserta juga bisa menikmati Kota Yogyakarta, melihat Malioboro, kawasan heritage, serta berbagai potensi yang ada di Kota Yogyakarta," ujar Hasto.
Ia berharap penyelenggaraan event olahraga berskala besar seperti ini terus berkembang dan menarik lebih banyak peserta dari luar daerah. Selain memperluas promosi destinasi, kunjungan peserta juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Menyusuri Keraton hingga Tugu Pal Putih
Direktur Pemasaran Bank BPD DIY, R Agus Tri Murjanto, mengatakan penyelenggara menghadirkan sejumlah pembaruan pada Malioboro Run tahun ini, terutama melalui penggunaan rute baru yang mengangkat identitas sejarah dan budaya Yogyakarta.
Lintasan lomba mencakup sejumlah lokasi ikonik, antara lain Malioboro, Titik Nol Kilometer, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pura Pakualaman, lima plengkung Benteng Baluwarti, Tamansari, Pasar Ngasem, Panggung Krapyak, hingga Tugu Pal Putih. Rute disesuaikan dengan kategori jarak yang diikuti peserta.
Agus menyebut pemilihan lintasan tersebut juga merepresentasikan konsep Dwi Tunggal melalui Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman.
"Dalam penyelenggaraan tahun ini, kami menghadirkan sejumlah pengembangan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satunya adalah penggunaan rute baru yang telah tersertifikasi AIMS dan melewati Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta Pura Pakualaman sebagai representasi konsep Dwi Tunggal," kata Agus.
BACA JUGA: BPR BKK Korwil Kedu Perkuat Persiapan Konsolidasi Menuju PT BPR Satu Jateng
Menurutnya, pengalaman berlari di kawasan bersejarah menjadi pembeda Malioboro Run dibandingkan kompetisi lari yang hanya berfokus pada pencapaian waktu dan jarak. Peserta dapat menikmati lanskap perkotaan, bangunan bersejarah, serta suasana permukiman yang masih mempertahankan karakter lokal.
"Melalui rute tersebut, peserta tidak hanya mengikuti kompetisi lari, tetapi juga diajak mengenal sejarah dan budaya Yogyakarta melalui pengalaman visual selama berlari," ujarnya.
Pembukaan acara melibatkan Ketua DPRD DIY Nuryadi, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, serta sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DIY. Kompleks Kepatihan, yang menjadi lokasi Kantor Gubernur DIY, berfungsi sebagai pusat kegiatan. Area acara juga menghadirkan puluhan stan, hiburan, dan penampilan musik, termasuk dari band Biru Baru.
Pelari Nikmati Pengalaman Berlari di Kota Sejarah
Pengalaman menyusuri kawasan bersejarah menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta. Susilo Hambeg Poromarto, pensiunan dosen Universitas Sebelas Maret berusia 65 tahun asal Boyolali, mengikuti kategori Half Marathon 21K dan mengaku terkesan dengan suasana Yogyakarta pada pagi hari.
Ia menilai perpaduan kawasan bersejarah, suasana permukiman, dan lingkungan yang masih asri memberikan pengalaman berbeda selama berlari.
"Jadi saya terkesan dengan rutenya ini. Termasuk saat ketika kita keliling dari keraton, kemudian menyusuri alam perkampungan yang sedikit kampung di situ, masih asri. Dan juga ada tempat-tempat seperti lewat di Tugu, ini sungguh menarik," katanya.
Susilo juga membawa bendera Merah Putih dan mengenakan caping saat mengikuti lomba. Atribut tersebut menjadi caranya memadukan kecintaan terhadap olahraga dengan semangat nasionalisme dan tema kebudayaan yang diusung penyelenggara.
“Ya, sesuai dengan tema dari Malioboro Run ini, Culture on Track. Sehingga saya lari juga membawa caping dan membawa semangat nasionalisme Indonesia,” ungkapnya.
BACA JUGA: Inflasi DIY September 2026 Capai 0,26 Persen, Beras Jadi Pemicu dan NTP Petani Naik
Ia mengatakan telah membawa bendera Merah Putih dalam berbagai ajang lari yang diikutinya, termasuk di Amerika Serikat dan Australia. Sejak 2019, ia bahkan rutin menggunakan bendera berukuran besar saat mengikuti sejumlah perlombaan.
Peserta kategori 10K asal Temanggung, Agus, juga mengapresiasi rute yang melewati berbagai lokasi bersejarah di Yogyakarta. Menurutnya, lintasan tersebut membuat kegiatan lari terasa lebih menarik karena peserta dapat menikmati karakter kota sepanjang perlombaan.
“Ya, karena kan kita itu (berlari di) kota sejarah ya. Jadi ya, seneng aja dilewati tempat-tempat bersejarah seperti itu,” katanya.
Agus berharap Yogyakarta semakin sering menggelar kompetisi lari yang mengangkat nilai sejarah dan kebudayaan. Ia juga mengajak pelari yang belum berkesempatan mengikuti Malioboro Run tahun ini untuk mencoba ajang tersebut pada penyelenggaraan berikutnya.
“Untuk teman-teman yang belum dapat slot, tahun depan wajib ikut. Karena acaranya seru banget,” tegasnya.
Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Lokal
Selain memperkenalkan warisan budaya, Malioboro Run 2026 berpotensi mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan sekitar 70 persen peserta berasal dari luar DIY, kebutuhan akomodasi, konsumsi, transportasi, dan aktivitas wisata dapat membuka peluang usaha bagi pelaku ekonomi lokal.
Agus berharap penyelenggaraan kegiatan ini turut mendorong sektor perhotelan, kuliner, pariwisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
BACA JUGA: 47 Hotel Indonesia Raih Michelin Keys 2026, Tiga Properti dapat Penghargaan Tertinggi
Kehadiran puluhan stan di pusat acara juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan layanan kepada peserta maupun pengunjung. Dengan demikian, kegiatan olahraga tidak hanya menjadi agenda kompetisi, tetapi juga dapat mendukung promosi destinasi dan produk lokal.
Melalui tema Culture On Track dan rute yang melewati berbagai situs bersejarah, Malioboro Run 2026 menempatkan pengalaman budaya sebagai bagian dari kegiatan olahraga. Penyelenggaraan ini sekaligus memperlihatkan potensi Yogyakarta dalam mengembangkan acara berbasis olahraga dan pariwisata yang melibatkan pengunjung dari berbagai daerah. (PDM)