Ribuan Hektare Sawah di Grobogan Terendam Banjir, Pemprov Jateng Dampingi Klaim Asuransi Gagal Panen

Kondisi banjir di Grobogan, Jawa Tengah. (Foto: Humas Jateng)

GROBOGAN, Pansela.co - 
Banjir akibat cuaca ekstrem merendam sedikitnya 1.842 hektare lahan persawahan di Kabupaten Grobogan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah langsung menyiapkan pendampingan bagi petani untuk mengajukan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) apabila tanaman dinyatakan mengalami gagal panen.

Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah saat ini masih melakukan verifikasi lapangan terhadap tingkat kerusakan. Proses identifikasi dilakukan sebelum klaim diajukan ke pihak asuransi.

Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) turun langsung untuk memastikan kondisi tanaman.

“Petugas POPT akan mengecek apakah benar terjadi puso atau tidak, karena dalam kondisi terendam kerusakan sulit dideteksi,” ujarnya usai mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau lokasi banjir, Selasa (17/2/2026).

BACA JUGA: Kisah Kaliwedi Sragen: Dari Desa Tertinggal Menuju Desa Mandiri

Jika verifikasi menyatakan tanaman gagal panen, laporan akan diteruskan ke PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai pengelola program AUTP.

Fransisco menjelaskan petani wajib melapor maksimal tujuh hari sejak kejadian. Ia meminta petani segera mendokumentasikan kondisi lahan sebelum pemeriksaan lapangan.

“Minimal saat kejadian sudah difoto dan dilaporkan dulu. Setelah itu petugas memastikan kebenarannya,” katanya.

Perlindungan Produksi dan Target Pangan

Pemprov Jateng juga mengakui belum semua petani menjadi peserta AUTP. Pemerintah daerah mendorong pendaftaran terutama di wilayah rawan bencana agar kerugian dapat ditekan.

“Kami dorong petani di daerah berisiko untuk mendaftarkan lahannya. Kalau tidak terdaftar, tentu tidak tertanggung asuransi,” ujarnya.

Pendampingan klaim asuransi dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha tani di tengah ancaman bencana hidrometeorologi. Selain melindungi pendapatan petani, kebijakan ini juga bertujuan menjaga stabilitas produksi beras.

BACA JUGA: Wings Air Resmi Buka Rute Bandung-Yogyakarta (YIA) Mulai 11 Februari 2026

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap optimistis target swasembada pangan 2026 dapat tercapai. Pada 2025, Jawa Tengah menempati peringkat ketiga nasional produksi padi dengan sekitar 9,3 juta ton gabah kering giling.

Meski pada tahun sebelumnya luas puso sempat mencapai 35 ribu hektare, produksi beras tidak terdampak signifikan. Pemerintah daerah menilai penguatan perlindungan usaha tani dan respons cepat bencana akan membantu meningkatkan produksi tahun ini.

Diberdayakan oleh Blogger.