Benarkah Musik Dulu Lebih Bagus? Ini Pandangan Soleh Solihun

Soleh Solihun. Source: youtube.com/@MalakaProjectid
JAKARTA, Pansela.co - Apakah musik zaman dulu benar-benar lebih bagus daripada musik sekarang? Mantan jurnalis musik sekaligus comedian Soleh Solihun membahas pertanyaan tersebut dalam siniar Malaka Podcast bersama Cania Citta. Menurut Soleh, perkembangan teknologi dan kemudahan akses musik melalui platform digital membuat musisi masa kini memiliki referensi lebih luas, sehingga kreativitas dan warna musik semakin beragam.
Dalam perbincangan bertajuk Benarkah Musik Dulu Lebih Bagus daripada Musik Sekarang? itu, Soleh menjelaskan bahwa perbedaan musik lintas generasi tidak bisa dinilai hanya berdasarkan selera atau nostalgia. Perubahan cara masyarakat mengakses musik turut memengaruhi perkembangan industri dan proses kreatif para musisi.
Soleh menilai, pada masa ketika distribusi musik masih mengandalkan album fisik, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal karya baru. Pendengar perlu membeli album, meminjam dari teman, atau mengandalkan rekomendasi orang lain untuk menemukan musik yang mereka sukai.
BACA JUGA: HUT ke-81 KAI, Menelusuri Jejak Jalur Kereta yang Membentuk Kota Pesisir Utara Jawa
Situasi tersebut berbeda dengan era layanan streaming digital. Kini, pendengar dapat menjelajahi berbagai genre dan karya musisi dari beragam negara dengan lebih mudah dan relatif murah.
"Kalau sekarang kan digital streaming platform, orang enggak perlu berlangganan juga punya akses," ujar Soleh dalam perbincangan tersebut.
Ia menilai kemudahan akses itu turut memperluas referensi musik musisi masa kini. Mereka dapat mempelajari berbagai genre, mengeksplorasi pengaruh musikal yang berbeda, dan menggabungkan beragam elemen dalam karya mereka.
"Menurut gue, musisi-musisi zaman sekarang ini lebih kaya secara warna. Kreativitas dan imajinasinya juga jadi lebih luas karena akses yang lebih terbuka tadi," kata Soleh.
Kritik Musik Bukan Sekadar Menentukan Lagu Bagus atau Jelek
Dalam perbincangan yang sama, Soleh juga menjelaskan bagaimana seseorang dapat menilai kualitas sebuah karya musik. Menurutnya, kritik musik tidak cukup hanya menyatakan sebuah lagu enak didengar atau sebuah album layak diapresiasi.
Seorang kritikus perlu menjelaskan alasan di balik penilaiannya, mulai dari kekuatan lirik, komposisi, aransemen, produksi, hingga pesan yang ingin disampaikan musisi.
Ia mengibaratkan kritik musik dengan kritik kuliner. Seseorang yang menikmati makanan mungkin cukup mengatakan rasanya enak. Namun, seorang kritikus perlu menguraikan racikan bumbu, perpaduan rasa, dan unsur yang membuat hidangan tersebut menarik.
Prinsip serupa berlaku ketika membahas musik. Kritikus perlu membantu pendengar memahami bagaimana unsur-unsur musikal membentuk pengalaman mendengarkan dan menyampaikan gagasan tertentu.
Menurut Soleh, kemampuan memainkan alat musik bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kompetensi seorang kritikus. Kemampuan menganalisis karya dan menjelaskan argumen secara masuk akal juga menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut.
Lagu Lama Tetap Relevan karena Kekuatan Cerita
Soleh mencontohkan lagu "Pesawat Tempur" karya Iwan Fals sebagai salah satu karya yang menurutnya memiliki kekuatan dalam lirik, musik, dan penggambaran kondisi sosial.
Ia menilai lagu tersebut tidak hanya menawarkan irama rock and roll yang mudah dinikmati, tetapi juga mengangkat persoalan pengangguran, kehidupan anak muda, perang, dan kritik terhadap penguasa.
Melalui sudut pandang sekelompok anak muda yang berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari, lagu itu menghadirkan cerita yang lebih luas daripada situasi sederhana yang tampak di permukaan.
BACA JUGA: Ngisor Klopo Cafe & Eatery, Destinasi Kuliner Baru di Petanahan
Bagi Soleh, kemampuan sebuah lagu menggabungkan cerita, irama, dan pesan sosial menjadi salah satu alasan karya tersebut tetap menarik untuk dibicarakan lintas generasi.
Namun, apresiasi terhadap musik lama tidak berarti musik baru kehilangan kualitas. Dalam perbincangan itu, Soleh turut menyebut album Romantisasi Impulsif dari The Jansen sebagai karya yang ia nilai bagus.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa ia tetap mengikuti perkembangan musik baru dan menilai karya berdasarkan unsur yang membangun kualitasnya, bukan semata-mata berdasarkan tahun rilis.
Selera Musik Tidak Menentukan Intelektualitas
Pembahasan Soleh dan Cania juga menyinggung perbedaan antara selera pribadi dan penilaian terhadap kualitas musik. Seseorang bisa menyukai musik populer atau lagu yang dianggap sederhana tanpa harus menganggap genre lain lebih rendah.
Musik yang terasa ringan bagi seorang pendengar belum tentu memiliki kesan serupa bagi orang lain. Karena itu, label seperti musik bagus, musik jelek, atau musik receh perlu dipahami dalam konteks penilaian yang digunakan.
BACA JUGA: Inflasi DIY September 2026 Capai 0,26 Persen, Beras Jadi Pemicu dan NTP Petani Naik
Perdebatan tentang musik lintas generasi pada akhirnya tidak cukup diselesaikan dengan membandingkan lagu-lagu lama dan baru secara langsung. Perbedaan teknologi, akses, referensi, serta pendekatan kreatif turut membentuk karakter musik pada setiap zaman.
Pandangan Soleh memberi perspektif bahwa pertanyaan tentang musik mana yang lebih bagus perlu diikuti pembahasan yang lebih mendasar: apa yang membuat sebuah karya memiliki kualitas, bagaimana musisi menyampaikan gagasan, dan sejauh mana pendengar memahami unsur yang membangun sebuah lagu. (PDM)