Gethuk Goreng Poncosari Bantul Berkembang, Serap 17 Pekerja dan Tembus Produksi 7 Kuintal Sehari

Gethuk goreng Bu Hesti di Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul makin berkembang. Sumber: bantulkab.go.id

BANTUL, Pansela.co - 
Perkembangan pariwisata di kawasan selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuka peluang baru bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan produk pangan lokal. Salah satunya usaha gethuk goreng milik Bu Hesti di Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, yang kini mampu memproduksi hingga tujuh kuintal per hari dan melibatkan 17 pekerja.

Usaha tersebut bermula dari kebutuhan masyarakat setempat yang harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk membeli gethuk goreng. Melihat peluang itu, Bu Hesti bersama suaminya mulai memproduksi gethuk goreng secara mandiri pada 2022.

Tanpa mengikuti pelatihan khusus, ia mempelajari proses pembuatan secara autodidak. Berulang kali melakukan percobaan, Bu Hesti akhirnya menemukan racikan yang sesuai dengan selera konsumen.

"Awalnya banyak yang mengeluh kalau mau membeli gethuk goreng harus pergi jauh. Dari situ saya mencoba membuat sendiri. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya menemukan resep yang pas," ujar Bu Hesti seperti dilansir dari bantulkab.go.id

BACA JUGA: Ngisor Klopo Cafe & Eatery, Destinasi Kuliner Baru di Petanahan

Produk tersebut menggunakan ketela pohon dan gula Jawa sebagai bahan utama. Seiring waktu, usaha yang awalnya hanya dikerjakan bersama suami berkembang dan mulai menjangkau pasar yang lebih luas.

Dipasarkan di Kawasan Wisata Selatan Bantul

Geliat pariwisata di kawasan selatan Bantul turut membuka akses pemasaran bagi produk gethuk goreng Poncosari. Saat ini, produk tersebut dipasarkan di kawasan Pantai Baru dan sejumlah titik di sepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS).

Bu Hesti juga memasok produknya kepada sejumlah pelaku usaha untuk dijual kembali. Pola pemasaran tersebut membuat jangkauan produknya semakin luas sekaligus meningkatkan kebutuhan produksi.

Dari usaha rumahan yang semula dikelola dua orang, kini sebanyak 17 pekerja terlibat dalam proses produksi. Kapasitas produksi mencapai sekitar tujuh kuintal gethuk goreng setiap hari.

BACA JUGA: Jelang HUT ke-81, KAI Ungkap Perubahan Tren Perjalanan Masyarakat Indonesia

Produk tersedia dalam beberapa pilihan harga, yakni Rp10.000, Rp15.000, dan Rp20.000. Konsumen juga dapat memilih empat varian rasa, yaitu original, durian, nangka, dan cokelat.

Varian original menjadi salah satu produk yang banyak diminati. Gethuk goreng tersebut memiliki masa simpan sekitar tiga hari sehingga distribusi dan penjualan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk.

Berharap Jadi Oleh-Oleh Khas Wisata Selatan Bantul

Bu Hesti melihat pertumbuhan usaha kuliner di kawasan wisata selatan Bantul bukan hanya sebagai persaingan antarproduk. Menurutnya, meningkatnya aktivitas wisata justru membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha sesuai potensi yang dimiliki.

Ia berharap semakin banyak warga memanfaatkan perkembangan kawasan wisata untuk menciptakan sumber pendapatan baru.

Ke depan, Bu Hesti ingin mengembangkan gethuk goreng produksinya sebagai salah satu pilihan oleh-oleh khas bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan selatan Bantul.

BACA JUGA: Krisis Air Bersih Kebumen Meluas, BPBD Sudah Salurkan 1,5 Juta Liter Air

Pertumbuhan usaha tersebut memperlihatkan hubungan antara perkembangan pariwisata dan ekonomi lokal. Meningkatnya aktivitas wisata menciptakan ruang pemasaran bagi UMKM, termasuk usaha makanan dan oleh-oleh berbasis bahan pangan lokal.

Dengan inovasi produk, perluasan pemasaran, serta pemanfaatan jalur wisata yang semakin berkembang, usaha gethuk goreng Poncosari menjadi salah satu contoh bagaimana potensi kuliner lokal dapat ikut bergerak bersama pertumbuhan ekonomi kawasan wisata selatan Bantul. ***

Diberdayakan oleh Blogger.